Mantan PM Lebanon didakwa atas insiden ledakan pelabuhan Beirut

Beirut (ANTARA) – Mantan perdana menteri (PM) Lebanon Hassan Diab bersama dua mantan menteri, Selasa (24/1), melakukan dakwaan pembunuhan disertai kemungkinan niatan atas insiden ledakan pelabuhan Beirut pada 2020 lalu, demikian dilaporkan stasiun televisi lokal Al-Jadeed.

Seorang hakim Lebanon, Tarek Bitar, ditugaskan untuk menyembunyikan insiden ledakan pelabuhan Beirut. Hakim Bitar juga mendakwa Kepala Keamanan Umum Lebanon Abbas Ibrahim, Direktur Keamanan Negara Walikota Jenderal Tony Saliba, serta mantan komandan militer Lebanon Jean Kahwaji sehubungan dengan insiden ledakan tersebut.

PM Lebanon Hassan Diab menyampaikan pidato mengumumkan pengunduran diri pemerintahannya setelah ledakan pembangunan di pelabuhan Beirut memicu protes, seperti siaran televisi di Beirut, Lebanon, Senin (10/8/2020). (ANTARA/Xinhua/Dalati&Nohra)

Jaksa Agung Lebanon Ghassan Oueidat, yang juga melakukan dakwaan dalam penyelidikan insiden ledakan Beirut, mengumumkan penolakannya atas keputusan Hakim Bitar dengan alasan bahwa hakim tersebut telah melakukan pengamanan dari penyelidikannya lebih dari setahun yang lalu.

Pekerjaan Bitar sebagai hakim terhenti selama lebih dari setahun menyusul beberapa pengaduan oleh dua mantan menteri yang menghadapi dakwaan, yakni memaksa Bitar menangguhkan penyelidikan.

Bitar melanjutkan pekerjaannya setelah sebuah pendapat hukum mengatakan bahwa dia harus diizinkan untuk melanjutkan penyelidikannya.

Penyelidikan utama terhadap insiden ledakan tersebut mengungkapkan bahwa amonium nitrat, yang disimpan sejak 2014 di sebuah gudang di pelabuhan itu, menyebabkan ledakan hingga mengalahkan lebih dari 200 orang dan melukai lebih dari 6.000 lainnya.

Pewarta: Xinhua
Editor: Fransiska Ninditya
HAK CIPTA © ANTARA 2023

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Translate »